lingkar2009

Guru juga Manusia (Renungan untuk Zamzami)

In BERITA LMPP-Aceh on 3 Agustus 2010 at 14:40

Ke hulu kita bertamasya
Jangan lupa berburu rusa
Guru juga manusia
Tak luput dari salah dan dosa

MEMBACA judul tulisan Zamzami berjudul Guru “Jadi-jadian” (Serambi, 31 Juli 2010) sempat membuat bulu kuduk saya dan bulu-bulu lainnya merinding karena imajinasi saya membayangkan idiom Mahkluk “Jadian-jadian”, yang bisa berkonotasi hantu, geuntet, atau sejenisnya. Kendatipun akhirnya saya paham, bahwa yang dimaksud Guru “Jadi-jadian” adalah guru yang hakikatnya tidak ditakdirkan menjadi guru. Namun, sebagai “Guru Benaran”, naluri saya tergelitik untuk merespons Zamzami karena sejumlah klaim dan asumsi tentang guru yang dikemukakan terkesan menggeneralisasi dan kurang proporsional.

Guru dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 disejajarkan dengan jenis profesi lainnya seperti dosen, dokter, perawat, advokat, pilot, notaris, tentara, polisi, ulama, wartawan, jaksa, hakim dan sebagainya. Dalam persefektif sebuah pekerjaan (diberi upah) guru juga setara dengan pejabat pemerintahan, anggota DPR, presiden, gubernur, pengemudi becak, buruh, tukang panjat kelapa, dan sebagainya.

Semua jenis profesi dan pekerjaan diperlukan dalam sistem kehidupan. Betapa menderitanya kita, bila tidak ada satu orang pun yang berprofesi atau bekerja sebagai pemanjat kelapa. Ribuan warung nasi akan tutup karena sebagian besar jenis masakan membutuhkan santan. Apa jadinya bila tidak ada satu orang pun yang mau menjadi dokter.

Tidak ada satu profesi pun yang berhak mengklaim bahwa profesinyalah yang paling penting, karena semua profesi saling terkait dan bila salah satu profesi tidak ada, maka pincanglah kehidupuan ini. Profesi adalah sebuah variabel netral yang baru akan berwarna bila dilekatkan pada manusia yang menjabatnya. Bila orang baik jadi guru, maka ia akan menjadi guru yang baik, sebaliknya jika orang jahat jadi guru, maka ia akan menjadi guru yang jahat pula.

Begitulah seterusnya, ada dokter yang baik, ada juga dokter yang suka melakukan malpraktik. Ada wartawan yang baik, tidak sedikit wartawan gadungan yang kerjanya hanya memeras korbannya. Ada pejabat pemerintah yang baik, tidak sedikit yang kerjanya hanya korupsi. Ada polisi yang baik, tidak kurang pula polisi yang kerjanya mengompas masyarakat. Ada jaksa yang arif, banyak juga yang kerjanya merekayasa kasus. Intinya, hitam atau putih sebuah profesi, bergantung pada manusia yang menjabat profesi tersebut. Dengan demikian, akan ada juga wartawan “Jadi-jadian”, polisi “Jadi-jadian”, jaksa “Jadi-jadian”, dan sebagainya.

Harus diakui, profesi tertentu seperti dokter, tentara, jaksa, hakim, pilot, polisi, dan sejenisnya tidak mudah memperolehnya karena harus menempuh pendidikan formal tertentu dan harus ada legalitas dari pihak yang berwenang. Sementara predikat guru relatif mudah disandang, karena ada istilah guru kontrak, guru honor, guru bakti dalam bentuk yang lain ada guru silat, guru mengaji, dan sebagainya dengan latar belakang pendidikan beragam.

Jika Anda ingin menyandang predikat guru, mudah sekali. Datanglah ke sebuah sekolah, lalu melamar menjadi guru bakti, maka jadilah Anda guru. Begitu mudahnya orang menyandang predikat guru. Inilah yang menyebabkan sulitnya mengontrol eksistensi guru untuk tetap dalam bingkai profesionalitas.

Zamzami mengklaim era tahun 50-an, guru masih mempunyai kedudukan dan wibawa yang besar di tengah-tengah masyarakat. Saya yakin Zamzami memperoleh informasi itu dari cerita-cerita orang tua kita dan bukan dari hasil penelitian. Mungkin ada benarnya, tetapi tidaklah tepat benar jika membandingkan guru era dulu dengan guru sekarang. Pertama, tahun 50-an kita baru merdeka, dan saat itu, menurut cerita para orang tua, umumnya pemimpin termasuk kaum profesional relatif memegang amanah. Bukan hanya guru yang diklaim lebih berwibawa, tetapi juga profesi lainnya.

Kedua, sekolah waktu itu belum banyak, murid yang sekolah benar-benar anak pilihan, sehingga tidak terbersit di hati mereka untuk menodong atau memukul gurunya. Gurunya juga tidak banyak, dan biasanya yang menjadi guru adalah orang-orang yang tulus, ikhlas, dan tanpa pamrih. Gaji guru saat itu (bahkan ada yang tidak bergaji) sangat kecil, sehingga hanya orang-orang yang berjiwa pendidiklah yang mau jadi guru. Jadi, guru waktu itu benar-benar hadir dari orang-orang berhati bersih dan mulia. Kecil sekali peluang guru yang menyakiti muridnya.

Ketiga, arus informasi tidak seglobal sekarang. Dahulu, bisa saja kejadian suatu daerah tidak diketahui oleh daerah lainnya. Pernah juga orang tua saya bercerita ada guru zaman dahulu yang dibunuh oleh orang tua murid karena tidak terima anaknya dikasari. Pada masa dulu berita sebuah peristiwa sangat lokal dan tidak cepat menyebar seperti sekarang. Bandingkan saat ini, seorang guru di Meulaboh hari ini menampar muridnya, besok seluruh dunia tahu. Di samping itu, zaman dulu belum ada LSM pegiat HAM yang membela hak-hak masyarakat, sehingga kalaupun ada kekerasan di dunia pendidikan kurang terekspos ke permukaan.

Zamzami juga menyatakan paradigma menjadi guru itu miskin, sudah tidak begitu tepat untuk saat ini, paling tidak untuk lima tahun terakhir. Hal ini seiring dengan dikeluarkannya Undang_Undang 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Saat ini, rata-rata gaji guru yang tersertifikasi berkisar 5-6 juta per bulan belum termasuk honor TC, kelebihan jam mengajar, dan sebagainya. Bahkan gaji profesor di perguruan tinggi berkisar 13 juta-an. Di Aceh saat ini sudah puluhan ribu guru yang tersertifikasi. Diperkirakan tahun 2014 guru di Indonesia, termasuk di Aceh sudah tersertifikasi semua. Jadi tidak relevan lagi menjadi guru itu identik dengan kemiskinan. Dampak kenaikan kesejahteraan guru membuat FKIP kini menjadi salah satu Fakultas favorit yang sangat diminati calon mahasiswa.

Yang sangat disayangkan, sebagai calon guru Zamzami tega menyimpulkan FKIP dan Fakultas Tarbiyah telah pupus dan hanya menghasilkan guru yang hanya mampu mengajar tetapi tidak mendidik. Sebagai mahasiswa yang berpijak pada prinsip-prinsip ilmiah, seharusnya Zamzami menyebutkan parameter dan indikator yang mendukung hal itu. Bukan hanya asal bunyi (asbun) yang bisa menjadi fitnah. Jika indikatornya bentuk penghormatan, seperti cium tangan atau terjadinya degradasi moral siswa tentu tidak bisa hanya dipersalahkan guru semata. Di sana ada peran keluarga dan masyarakat di samping adanya pergeseran budaya antarzaman.

Tahukan Zamzami, sejak didirikan sekitar tahun 60-an FKIP dan Fakultas Tarbiyah telah menghasilkan puluhan ribu guru, dan di antara guru-guru itu telah mendidik Zamzami menjadi anak yang taat, santun, dan pintar seperti sekarang ini. Apa benar di mata Zamzami tidak ada satu pun guru di Aceh yang mampu mengajar dan mendidik? Terlepas dari itu semua, saya sepakat dengan Zamzami bahwa profesi guru sangat strategis dan mulia serta menjadi panutan. Namun, seburuk apa pun guru, ia tetaplah guru kita yang harus dihormati. Ada tatakarama dalam mengkritisinya. Biar bagaimanapun mereka telah memberikan ilmu pengetahuan kepada kita, meskipun hanya setetes. Hormat kami buat para guru!

* Drs. Denni Iskandar, M.Pd adalah Dosen FKIP Unsyiah

Sumber : http://www.serambinews.com/news/view/36360/guru-juga-manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: